Habakung Dalam Upacara Kematian

Dalam suatu upacara kematian di beberapa daerah yang ada di Kalimantan Tengah dikenal suatu acara yang disebut dengan Habukung. Habukung merupakan suatu upacara ritual yang berasal dari kebiasaan jaman dahulu kala yang dialami nenek moyang orang Dayak di Kalimantan Tengah. Pada Masa sekarang ini jarang kita temui ritual adat yang unik ini, hal ini merupakan salah satu kekayaan budaya Dayak dari Kalimantan Tengah yang perlu terus kita lestarikan.

Upacara Ritual Habukung yaitu berawal dari suatu legenda pada zaman dahulu kala pada sebuah dusun atau pemukiman yang terdiri dari 7 (tujuh) buah rumah, tinggallah sepasang suami dan istri, mereka merupakan salah satu pasangan yang baru saja menikah. Sang suami sangat mencintai istrinya. Pada suatu ketika terjadilah peristiwa yang menimpa keluarga mereka yang baru saja dibina kurang lebih berjalan 1 (satu) tahun. Pada hari itu terjadilah suatu musibah yang tidak disangka-sangka, istrinya yang sedang menggandung sekitar  7 bulan, tiba-tiba meninggal dunia. Karena istrinya meninggal dunia tersebut, sang suami sangat bersedih sekali dan selalu menangis sambil memeluk mayat istrinya, dan selama itu juga sang suami tidak mau makan dan berbicara dengan siapa pun. Orang tua dan pihak keluarga selalu berupaya untuk menasehati agar mayat istrinya segera dimakamkan, tetapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya  dan ia pun tetap berbaring dan menangis sambil memeluk mayat istrinya.

Pihak keluarga mulai gelisah, berupaya berfikir mencari jalan keluar untuk membujuknya agar mau memakamkan istrinya, dan kurang lebih berjalan 15 (lima belas) hari, pada suatu malam ayah sang laki-laki tersebut bermimpi bertemu seseorang dan orang tersebut berkata kami akan menolong bapak untuk menghibur anak bapak yang ditinggalkan istrinya tersebut dengan cara datang berangsur-angsur setiap hari dan tolong beritahukan pula kepada penduduk kampung lainnya jangan takut atas kedatangan kami yang berwujud aneh-aneh. Setelah terbangun pada pagi harinya, maka sang ayah segera bangun untuk memberitahukan mimpi tersebut kepada warga kampung setempat.

Pada malam harinya, terdengarlah suara gemuruh dan derap-derap kaki dari luar kampung dan diselingi suara musik gong dan lainya, kemudian muncullah orang banyak sekali memakai suatu topeng yang terbuat dari kayu Palawi. Topeng inilah yang disebut dengan Bukung. Topeng yang digunakan orang-orang tersebut berbentuk aneh dan unik, Orang-orang tersebut membunyikan alat-alat musik dan disertai dengan berbagai macam tarian sambil membunyikan potongan bambu yang dibelah dan dibuat sedemikian rupa untuk dihentak-hentakan dan dipukul sehingga berbunyi berderak, bambu tersebut dinamakan dengan “Selekap”.  Selain wajah yang aneh dan unik, Bukung-bukung tersebut juga menggunakan bermacam-macam bentuk dan pakaian yang aneh seperti terbuat dari dedaunan, rumput, daun pisang dan lain-lain.

Tarian yang dibawakan Bukung-bukung tersebut  dibuat dengan gaya yang lucu-lucu sehingga membuat orang yang melihat terhibur dan tertawa-tawa. Begitulah Bukung tersebut datang setiap malam, sehingga sang laki-laki yang istrinya meninggal tersebut juga turut terhibur  hanyut dalam keceriaan orang-orang kampung yang terhibur oleh atraksi Bukung-bukung tersebut. Keadaan sang laki-laki itu pun berangsur-angsur membaik, dia mau makan dan berbicara dengan orang lain lagi.

Setiap malam Bukung-bukung itu datang sambil membawa uang, barang- barang lainya yang akan disumbangkan kepada keluarga yang mengalami musibah meninggal dunia tersebut. Hal ini berlangsung selama setiap malam. Selama beberapa malam tersebut setelah adanya Bukung tersebut, maka banyak sekali barang-barang sumbangan yang diberikan menumpuk seperti beras, ayam, babi dan lainnya.

Selanjutnya pada suatu malam pihak keluarga sang pemuda memyampaikan rencana kepada san suami untuk memakamkan istrinya. Hasilnya sang suami setuju untuk memakamkan istrinya sampai pada ketentuan bahwa keluarga harus menyiapkan biaya untuk pelaksanaan penguburan dengan bantuan Bukung tadi (biaya yang sudah ada). Menjelang hari pelaksanaan pemakaman kegiatan Habukung berjalan terus tiap malam tanpa henti. Tepat pada hari pemakaman, Bukung terus diadakan sampai peti jenasah (raung) dibawa ke liang lahat (dikuburkan). Bukung-bukung tersebut turut pula mengangakat dan membawakan peti jenasah istri laki-laki tersebut. Bukung yang terakhir ikut mengangkat dan membawa peti jenasah ke kuburan, bukung yang ikut mengangkat peti jenasah tersebut yaitu Bukung Kinyak atau Bukung Belang.

Berdasarkan dari legenda/mitos itulah maka bagi pemeluk agama Hindu Kaharingan di kecamatan Mentaya Hulu kabupaten Kotawaringin Timur selalu melaksanakan Habukung setiap ada keluarga yang meninggal dunia. (Endrie)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *