SAMBUT TAHUN BARU 2018, SHABILLA BARBIE CIKARANG DAN RESTI KDI “GOYANG” PALANGKA RAYA

Palangka Raya-Disbudpar, Perayaan tahun baru memang seakan tak pernah sepi. Setiap tahun berbagai tempat seolah menghadirkan tradisi yang berbeda-beda. Kamu yang bingung saat perayaan tahun baru 2018 ingin merayakan dimana?, maka kamu bisa ke Kota Palangka Raya.

Di Kota Palangka Raya, mencari tempat untuk merayakan malam tahun baru sangat mudah. Salah satunya di Kompleks Lapangan Sanaman Mantikei. Khusus malam tahun baru 2018, Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar event menarik dan diharapkan menjadi hiburan pengisi liburan akhir tahun bagi masyarakat Kota Cantik.

Bertajuk Pesta Seni Rakyat 2017, berbagai acara digelar dengan menampilkan pagelaran seni, tarian kolosal, fashion show, penampilan artis ibu kota, pesta kuliner tradisional, dan pesta kembang api. Panitia menghadirkan sejumlah artis Ibu Kota yakni Shabilla Barbie Cikarang dan Resti KDI.  

Kawasan Sanaman Mantikei memang biasa dijadikan pusat perayaan tahun baru oleh Pemerintah Kota Palangka Raya. Nantinya, kemeriahan-kemeriahan sudah bisa dirasakan seiring tenggelamnya matahari sore.

Berbagai acara seperti pagelaran tari dan fashion show digelar hingga larut malam, para musisi, band maupun penyanyi akan tampil di panggung. Kali ini Resti KDI dan Shabilla Barbie Cikarang akan menggoyang warga Palangka Raya. Tepat pukul 00.00 WIB, kamu bisa menikmati cantiknya pesta kembang api yang ditembakkan dari seputaran Lapangan Sanaman Mantikei. Ayo segera berkemas, ajak keluarga anda hadir dan meriahkan tahun baru di Palangka Raya! (Alamsyah)

RITUAL MA’MAPAS LEWU, MA’ARAK SAHUR PALUS MANGGANTUNG SAHUR KEMBALI DIGELAR

Palangka Raya-Disbudpar, Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya dalam rangka tutup tahun 2017 menyambut Tahun 2018 kembali melakukan ritual tahunan Ma’mapas Lewu, Ma’arak Sahur Palus Manggantung Sahur.

Kegiatan Ritual tersebut dilaksanakan selama 3 hari sejak tanggal 30 Desember 2017 dan akan berakhir tanggal 1 Januari 2018. Sabtu,30 Desember 2017 dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kota Palangka Raya, Hj. Norma Hikmah, M,Si bertempat di Balai Basara Hindu Kaharingan Jalan Tambun Bungai Palangka Raya.

Dalam Sambutannya, Norma Hikmah mengungkapkan, selain bentuk acara ritual, kegiatan ini merupakan bentuk promosi budaya lokal yang bertujuan untuk mempertahankan kearifan lokal bernuansa religius yang ada sejak zaman nenek moyang Suku Dayak di Kalimantan Tengah.

“Dalam bahasa Dayak Ngaju Ma’mapas lewu mengandung pengertian membersihkan wilayah atau daerah dari pengeruh-pengaruh atau perbuatan jahat atau buruk, baik yang dilakukan oleh manusia maupun oleh roh jahat (gaib) terhadap kehidupan,” jelasnya.

Dijelaskan, Ma’arak Sahur adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, Sahur Parapah, Antang Patahu dan Manggantung Sahur Lewu adalah permohonan kepada Yang Maha Kuasa supaya Kota Palangka Raya selalu terjaga dan terlindungi dari hal-hal yang tidak baik yang dilakukan oleh manusia maupun roh jahat.

Kegiatan tersebut diisi dengan berbagai ritual adat Dayak Kalimantan tengah yang dilaksanakan oleh para Basir/ Balian yaitu orang tertentu yang mempunyai kemampuan untuk berhubungan dengan Roh-Roh Gaib penjaga alam, yang menurut keyakinan adalah sebagai pelindung yang mampu berkomunikasi dengan Roh-Roh Gaib menggunakan bahasa Sangiang.

Pelaksanaan upacara adat Mamapas Lewu ini melalui 10 tahap/proses yang dilaksanakan secara urut yaitu Acara Basir Balian Mandurut Sangiang; Acara Basir Balian Manantan Dahiang Baya; Sial Pali Seluruh Kota Palangka Raya; Acara Penyembelihan Hewan Kurban; Acara Menurunkan Pinggan Sahur; Acara Pemberian Penginan Sukup Simpan dilanjutkan dengan Pakanan Sahur Lewu; Acara Mimbul Kuluk Metu (Penanaman hewan kurban); Acara Balian Karunya; Acara pabuli Sangiang. Nilai-nilai budaya yang bisa dipetik dari pelaksanaan upacara adat Mamapas Lewu adalah penghormatan terhdap leluhur, gotong royong, ketertiban, kepatuhan, pendidikan dan aset wisata. (Alamsyah)

 

Butuh Sinergi Mengedukasi Masyarakat dan Wisatawan Memahami Pariwisata Bertanggung Jawab

Palangka Raya-Disbudpar, Membangun jaringan antar stakeholders kepariwisataan  merupakan suatu kebutuhan dalam menghadapi perkembangan dunia kepariwisataan yang semakin hari semakin meningkat. Peran serta semua pihak diperlukan untuk mengembangkan destinasi pariwisata di daerah. Perubahan yang ada menuntut kita untuk menciptakan inovasi kreatif sehingga mampu berkoordinasi dan menjaga eksistensi alam yang merupakan modal utama pariwisata.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya, Hj. Norma Hikmah, M.Si (Rabu, 06/12/2017) mengungkapkan, pariwisata adalah suatu bidang multi dimensi yang memerlukan sinergi atau kerjasama antar stakeholders terkait di dalamnya. Membangun jaringan antar stakeholders merupakan suatu cara untuk membangun pariwisata daerah yang terintegrasi, karena melalui kerjasama yang baik arah pengembangan kepariwisataan daerah dapat jelas dan stakeholders tidak terkesan bekerja sendiri-sendiri.

Objek wisata yang ada di Kota Palangka Raya menurut Norma Hikmah, kebanyakan merupakan objek wisata alam yang sangat rentan mengalami kerusakan daya dukung lingkungan akibat perilaku masyarakat dan wisatawan yang berkunjung. “Hal ini memerlukan kerjasama  antar stakeholders untuk mengawasi dan mengedukasi masyarakat dan wisatawan dalam menjaga objek wisata alam yang ada di Kota Palangka Raya,” jelasnya.

Ditambahkan, berbagai macam cara dapat dilakukan agar pesan edukasi ini sampai ke masyarakat dan wisatawan. Tehnik yang dapat dilakukan untuk mengedukasi masyarakat dan wisatawan dapat melalui media sosial, siaran radio, berita di media cetak dan website adalah. Bantuan dari berbagai lini stakeholders sangat diperlukan, karena menjaga lingkugan dan alam yang merupakan modal pariwisata di Kota Palangka Raya.

Sebangau Jadi Spot Wisata Unggulan

Salah satu destinasi wisata adalah Taman Nasional Sebangau yang terletak di Kelurahan Kereng Bangkirai. Objek wisata tersebut merupakan spot unggulan berupa wisata alam yang ada di Kota Palangka Raya.

Taman Nasional Sebangau memang sedang berkembang akhir-akhir ini, destinasi yang mengandalkan keindahan alam, flora dan fauna tersebut, menjadi destinasi favorit bukan hanya warga Kota Palangka Raya bahkan wisatawan luar daerah dan mancanegara.

Wisatawan dapat menikmati pemandangan alam di sekitar Dermaga Wisata, berjalan-jalan disekitar pemukiman penduduk yang dicat warna warni (kampung pelangi), mencoba fasilitas sepeda air, lanting wisata susur sungai, menaiki kelotok wisata hingga jungle tracking ke Taman Nasional Sebangau.

Melihat perkembangan tersebut, maka diperlukan usaha dan kerjasama dari semua stakeholders untuk mengedukasi masyarakat dan wisatawan yang ada di lokasi dalam hal menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak fasilitas (aksi vandalisme), tidak mengambil flora dan fauna yang ada di lokasi objek wisata serta menghindari bahaya kebakaran lahan. Hal ini harus dilaksanakan berkelanjutan agar perdikat yang diberikan Balai Taman Nasional Sebangau kepada Kota Palangka Raya sebagai Kota Taman Nasional semakin dikenal didalam maupun diluar daerah.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerjasama dengan Pokdarwis Kereng Bangkirai, Komunitas Palangka Raya Clean Action dan Komunitas Green Generation Palangka Raya, Minggu (03/12/2017), telah melakukan Kegiatan berupa gerakan pungut sampah di sekitar lokasi dermaga wisata Kereng Bangkirai, edukasi melalui media cetak dan himbauan langsung kepada masyarakat dan wisatawan untuk tidak merusak lingkungan, serta tidak membuang sampah sembarangan. Gerakan ini akan dilakukan berkelanjutan, agar pesan edukasi pariwisata bertanggung jawab dapat merubah pola pikir masyarakat dan wisatawan untuk bersama menjaga lingkungan hidup. (Endri Sukah)

Diperlukan Pemimpin Kreatif Dan Inovatif Memajukan Pariwisata Daerah

Palangka Raya, Disbudpar-Potensi daerah tidak akan berarti apa-apa jika tidak diimbangi dengan kepemimpinan yang kreatif dan inovatif. Pemimpin harus mampu mendayagunakan potensi daerah yang dimiliki bagi kepentingan masyarakat.

Salah satu daerah sukses dan telah mampu mendayagunakan potensi daerah yang luar biasa adalah Kabupaten Banyuwangi, selain didukung sumber daya alam, tak kalah penting sumber daya manusia, terutama pemimpin yang jauh punya visi dan misi kedepan untuk  membangun daerah.

Hal tersebut terungkap pada seminar nasional di Swisbell Hotel Danum, Kota Palangka Raya, Selasa (24/10/2017) oleh nara sumber Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, MY Bramuda. Seminar tersebut mengangkat tema ‘Mendorong Pariwisata Kalimantan Tengah dalam Rangka Diversifikasi Sumber Pertumbuhan Ekonomi’.

Kesuksesan kabupaten berjuluk ‘sunrise of java‘ itu memang tak diragukan lagi, dan telah diakui dunia, menurut MY Bramuda, salah satunya menerima penghargaan Badan Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (The United Nations World Tourism Organization/UNWTO) dalam ajang 12th UNWTO Awards Forum di Spanyol 2016. Banyuwangi menyabet UNWTO Awards for Excellence and Innovation in Tourism untuk kategori ‘Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola’.

Dijelaskan dia, beragam strategi pemasaran sebagai benchmarking yang dilakukan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, telah mampu mengangkat pamor daerah. Selain menjadi destinasi wisata unggulan, Banyuwangi juga dilirik sebagai tempat berinvestasi karena dinilai salah satu daerah yang paling inovatif dan sadar marketing, serta telah berhasil menyinergikan pengembangan destinasi wisatanya dengan stakeholder, termasuk dengan BUMN melalui penerapan 4 pilar kunci peningkatan kinerja pariwisata, yakni Aksessibilitas, Amenitas, Atraksi dan Komitmen.

“Banyuwangi dulu identik dengan kota santet dan kota transit sebelum ke Bali, bahkan yang lebih ekstrim adalah kota “kencing”. Sekarang bagaimana kami bersinergi hingga menjadi sebuah kabupaten percontohan, karena dianggap merupakan daerah yang sudah mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik untuk masyarakatnya melalui aktivitas pariwisata,”ungkap MY Bramuda.

Berbagai kemajuan tersebut kata dia, sudah dirasakan bersama oleh semua lapisan masyarakat, bagaimana tingkat kemiskinan jauh menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka kemiskinan terbaru kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Jawa itu tercatat 8,79 persen, turun dari tahun sebelumnya yang sebesar 9,17 persen.

Dijelaskan, dalam kurun waktu 6 tahun Banyuwangi sudah banyak berubah, dari image kota santet menjadi kota digital. Bahkan berbagai tempat destinasi wisata Banyuwangi kini sudah sangat dikenal, baik wisatawan lokal maupun mancanegara, dan sudah mampu menyelenggarakan event/festival sebanyak 72 kali setiap tahunnya. Dengan berbagai event tersebut, dipastikan ada dalam setiap minggunya. Sekarang Banyuwangi bukan lagi hanya menjadi kota transit, tapi menjadi kota tujuan wisata setelah Bali.

Banyuwangi juga dinilai telah mampu mengaplikasikan teknologi informasi dalam menunjang aktivitas pemerintahan, berbagai fasilitas sosial media telah dimanfaatkan dengan baik. Dalam hal promosi wisata daerah menempatkan 1000 anak muda kreatif yang membantu mempromosikan daerah dengan berbagai media.

“Bagaimana mengkolaborasi fokus pada pencapaian hasil yang ingin dicapai. Ego sektoral menjadi kendala utama birokrasi di Indonesia, membangun daerah adalah hasil kolaborasi dari semua pihak, Banyuwangi sukses mengalahkan Ego sektoral tersebut. Sehingga terbangun super tim yang handal,”katanya.

Bupati Banyuwangi ditambahkan dia, juga menunjukkan spirit marketing dalam kesehariannya dan mempunyai jiwa leadership yang mampu mendorong perubahan PNS secara baik. “Karena kami sadar pemasaran daerah adalah hal strategis yang harus dilakukan untuk memajukan daerah. Bahkan, Pak Bupati memosisikan dirinya sebagai seorang salesman bagi Banyuwangi dalam berbagai forum dan kesempatan buktinya sudah mendapat pengakuan dunia dengan meraih berbagai penghargaan,”pungkasnya.

Seminar sehari yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah tersebut, menghadirkan 4 nara sumber, yakni Suparjo pejabat Kementerian Pariwisata, I Gede Ardika Ketua Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata yang juga mantan Menteri Pariwisata, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah Guntur Talajan dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi . (Alamsyah)

 

Kesadaran Masyarakat Modal Utama Pengembangan Pariwisata

Palangka Raya, Disbudpar-Keindahan alam yang dimiliki sebagian besar wilayah Kota Palangka Raya, mampu memberikan potensi wisata alam yang menjadi magnet bagi wisatawan datang berkunjung ke daerah ini. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya, Hj. Norma Hikmah menilai, kesadaran dan kerjasama yang baik semua pihak termasuk masyarakat untuk mengembangkan potensi yang ada, merupakan modal utama pengembangan pariwisata.

Hal tersebut disampaikan Norma Hikmah pada saat membuka Pelatihan Dalam Rangka Peningkatan Sumber Daya Manusia Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya di Lokasi Wisata Kereng Bangkirai, Senin 18/09/2017.

“Masyarakat harus mempunyai kesadaran dan rasa memiliki, kemudian secara bersama-sama mengatur pengelolaan usaha jasa pariwisata, sehingga semua dapat menikmati manfaat dari aktivitas kepariwisataan, sekaligus menjaga keberlanjutan yang sustainable selaras dengan Sapta Pesona,”kata Norma.

Ditambahkan, adanya kesadaran masyarakat akan potensi wisata yang dimiliki menjadi salah satu faktor pendukung utama bagi kenyamanan wisatawan itu sendiri, belum lagi keasrian dan kealamian objek wisata akan menjadi atraksi nilai tambah bagi kegiatan wisata alam terutama wisata minat khusus. 

Kegiatan Pelatihan Dalam Rangka Peningkatan Sumber Daya Manusia Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif tersebut, diikuti sebanyak 60 orang peserta yang berasal dari pelaku usaha ekonomi kreatif, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) serta unsur berbagai bidang yang terkait lainnya.

Kegiatan Pelatihan menghadirkan nara sumber dari Central Borneo Guide, Yuyun Pratiwi, berkaitan dengan pengetahuan umum tentang kepariwisataan. Kegiatan pelatihan juga dilanjutkan dengan peragaan cara pembuatan cendramata berupa anyaman purun yang digunakan sebagai kemasan ikan kering yang diperagakan oleh Pokdarwis setempat. (Alamsyah)

Pelatihan Dalam Rangka Peningkatan Sumber Daya Manusia Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya di Lokasi Wisata Kereng Bangkirai, Senin 18/09/2017. (Foto : Alamsyah)