Car Free Day Di Palangka Raya

Apa Itu RIPPARDA?

Taman Terpopuler Di Kota Palangka Raya

Promosikan Budaya Dayak Sebagai Produk Wisata Unggulan Palangka Raya

Kebudayaan adalah suatu hal yang bersifat universal di muka bumi ini. Masing-masing tempat atau daerah pasti memiliki budaya yang unik. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang  di suatu daerah dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis kepada generasi yang berikutnya. Budaya juga merupakan suatu identitas yang melekat pada individu maupun kelompok. Tanpa adanya budaya maka ibarat manusia tanpa identitas. Budaya adalah suatu hal yang unik dipandang dari masing-masing individu yang berbeda sehingga mendorong seseorang atau kelompok untuk mengetahui lebih jauh tentang kebudayaan suatu daerah dimana tempat asal dari budaya tersebut bertumbuh.

Keinginan untuk mendatangi daerah asal budaya tersebut mendorong seseorang/kelompok melakukan perjalanan dan hal ini masuk dalam kategori kegiatan berwisata karena dalam hal ini budaya adalah point of interest dari seseorang untuk berkunjung/berwisata. Menurut A.J. Burkart dan S. Medik (1987). Pariwisata adalah “perpindahan orang untuk sementara dan dalam jangka waktu pendek ke tujuan- tujuan diluar tempat dimana mereka biasanya hlidup dan bekerja dan kegiatan-kegiatan mereka selama tinggal di tempat-tempat tujuan itu”. Jika dihubungkan antara pariwisata dan budaya maka muncullah istilah Pariwisata berbasis budaya. Sebagai sumber daya yag tidak ada habisnya, kebudayaan mampu menyuplai, mengolah dan menampilkan produk wisata yang berlatar belakang budaya kepada wisatawan. Hal ini terbentuk akibat dari rasa inign tahu dan mencoba serta menikamti kebudayaan suatu daerah yang unik.

Pariwisata Berbasis Budaya

Pariwisata berbasis budaya adalah salah satu jenis kegiatan wisata yang menggunakan kebudayaan sebagai objeknya. Seperti dijelaskan diatas, budaya memilik daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk menngenal, inigin tahu dan mempelajari budaya suatu daerah. Pariwisata jenis ini dibedakan dari minat-minat khusus lain, seperti wisata alam, dan wisata petualangan. Keunikan budaya adalah kata kunci dari minat berkunjung serta terbentuknya kegiatan wisata yang berbasis budaya.

Penerapan kegiatan pariwisata berbasis budaya di Indonesia telah ditunjukkan oleh beberapa provinsi. Selain provinsi Bali, provinsi lain yang fokus dalam pelaksanaan sektor ini adalah Daerah Istimewa Jogjakarta khususnya kota Jogjakarta. Sejak tahun 2008, daerah ini telah mencanangkan diri sebagai kota pariwisata berbasis budaya. Di Jogjakarta, pengembangan pariwisata disesuaikan dengan potensi yang ada dan berpusat pada budaya Jawa yang selaras dengan sejarah dan budaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ada 12 unsur kebudayaan yang dapat menarik kedatangan wisatawan, yaitu Bahasa (language), Masyarakat (traditions), Kerajinan tangan (handicraft), Makanan dan kebiasaan makan (foods and eating habits), Musik dan kesenian (art and music), Sejarah suatu tempat (history of the region), Cara Kerja dan Teknolgi (work and technology), Agama (religion) yang dinyatakan dalam cerita atau sesuatu yang dapat disaksikan, Bentuk dan karakteristik arsitektur di masing-masing daerah tujuan wisata (architectural characteristic in the area), Tata cara berpakaian penduduk setempat (dress and clothes), Sistem pendidikan (educational system), Aktivitas pada waktu senggang (leisure activities). 12 Unsur kebudayaan tersebut dapat dikemas khusus bagi penyajian untuk turis, dengan maksud agar menjadi lebih menarik.

Budaya Dayak Sebagai Objek Wisata Kota Palangka Raya

Palangka Raya sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Tengah merupakan suatu kota yang menampung penduduk dengan ragam budaya dan daerah baik dari daerah Kalimantan Tengah itu sendiri maupun dari luar pulau. Kota yang dibelah oleh sungai Kahayan ini  merupakan tempat perwujudan “Huma Betang” atau rumah besar milik bersama dimana sebagai penduduk asli dan pendatang hidup dan tinggal berdampingan saling menghargai satu dan lainnya serta menghargai adat istiadat dan budaya setempat. Suku Dayak yang mendiami Kota Palangka Raya adalah Dayak Ngaju, Ma’anyan, Siang, Dusun, Ot Danum dan lain-lain. Budaya Dayak yang ada di Kota Palangka Raya merupakan suatu keunikan tersendiri bagi wisatawan yang hendak berkunjung dan menikmati suatu pengalaman kebudayaan yang berbeda.

Jika dilihat berdasarkan 12 unsur kebudayaan yang dapat menarik minat wisatawan berkunjung ke Kota Palangka Raya maka budaya Dayak memiliki keunikan tersendiri dibandingkan objek wisata budaya yang sudah maju seperti di Bali dan Jogjakarta. Budaya Dayak memiliki suatu sifat iconic dari deretan kebudayaan Indonesia dan mampu bersaing dengan produk wisata budaya daerah lain jika dikemas sedemikian rupa. Dari ke-12 unsur kebudayaan yang dapat menarik minat wisatawan berkunjung tersebut maka budaya Dayak yang ada di Kota Palangka Raya yang memiliki unsur penarik minat wisatawan adalah :

  1. Bahasa (language) – Bahasa Dayak Ngaju, Ma’anyan, Banjar dll
  2. Masyarakat (traditions)  – Festival Budaya, Pernikahan Adat Dayak, Upacara Kematian (Tiwah), Membersihkan Kampung (Mamapas Lewu) dll
  3. Kerajinan tangan (handicraft) – Jawet Rotan, Getah Nyatu, Ukiran Khas Dayak
  4. Makanan dan kebiasaan makan (foods and eating habits) – Juhu Singkah, Kandas Kambasarai, Goreng Saluang, Wadi dll
  5. Musik dan kesenian (art and music) – Karungut, tarian khas Suku Dayak, motif Dayak
  6. Sejarah suatu tempat (history of the region) – Tugu Pancang Pertama Kota Palangka Raya, Kampung Pahandut, Museum Balanga
  7. Cara Kerja dan Teknolgi (work and technology) – Teknologi bercocok tanam padi khas Dayak (Manugal dan Manggetem Parei), Menyadapa getah dll
  8. Agama (religion) yang dinyatakan dalam cerita atau sesuatu yang dapat disaksikan – Hindu Kaharingan
  9. Bentuk dan karakteristik arsitektur di masing-masing daerah tujuan wisata (architectural characteristic in the area) – Betang, Huma Hai, jembatan Kahayan, Pesangrahan
  10. Tata cara berpakaian penduduk setempat (dress and clothes) – Baju adat, baju tari, Benang Bintik, Lawung, Baju Nyamu
  11. Sistem pendidikan (educational system) – Pendidikan berbasis alam dengan ciri khas Dayak
  12. Aktivitas pada waktu senggang (leisure activities) – Permainan (Balogo, Bagasing), menganyam rotan

Ke-12 unsur tersebut merupakan sumber daya pariwisata yang tidak ada habisnya karena dapat kita tampilkan/sajikan berulang-ulang dan tentu saja dari ke-12 unsur tersebut dapat kita kembangkan (difersifikasi) menjadi produk wisata yang lain agar wisatawan tidak bosan dengan tapilan yang ada.

Unsur Pendukung Terbentuknya Destinasi Wisata Budaya Di Kota Palangka Raya

Selama melakukan perjalanan wisata tentunya wisatawan membutuhkan dukungan dari komponen wisata lain seperti daya tarik wisata, transportasi, akomodasi, layanan makan dan minum dan lain sebagainya. Jika dikemas dengan baik tentunya wisatawan akan puas dan betah tinggal berlama-lama di destinasi wisata. Selain itu dengan lama tinggal yang tidak sebentar tentunya wisatawan akan lebih spent money yang besar pula. Harapannya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dari sektor pariwisata.

Produk Wisata dalam suatu destinasi merupakan produk gabungan/campuran (composite product) dari berbagai macam objek, atraksi, fasilitas dan lain-lain sehingga terbentuk suatu destinasi. Pewujudan destinasi wisata budaya di Kota Palangka Raya tentu tidak lepas dari beberapa unsur yang perlu diperhatikan, sehingga terwujud suatu destinasi wisata budaya yang bertumbuh dan dapat memiliki nilai jual bagi wsiatawan yang berkunjung. Adapun unsur-unsur  tersebut adalah :

  • Amenitas : Fasilitas penunjang wisata yang meliputi akomodasi, rumah makan, retail, toko cinderamata, biro perjalanan, pusat informasi wisata.
  • Aksesibilitas : Dukungan sistem transportasi meliputi rute atau jalur transportasi, fasilitas terminal, bandara, pelabuhan dan moda transportasi.
  • Fasilitas Pendukung : Ketersediaan fasilitas pendukung yang digunakan oleh wisatawan seperti bank, telekomunikasi, pos, rumah sakit dan sebagainya.
  • Kelembagaan Masyarakat : Keberadaan dan peran masing-masing unsur dalam mendukung terlaksananya kegiatan wisata.
  • Objek dan Daya Tarik : Alam budaya, buatan/artificial, event dan sebagainya

Unsur diatas sangat diperlukan dalam pembentukan destinasi wisata budaya di Kota Palangka Raya. Sebagian besar unsur tersebut sudah dimiliki Kota Palangka Raya, dan ada beberapa pula yang perlu selalu di rawat secara berkala maupun ditingkatkan keberadaannya. Sehingga wisatawan dengan mudah datang ke destinasi yang sudah kita sediakan.

Sumber daya manusia adalah hal mutlak yang pelu terus di tingkatkan dalam unsur kelembagaan dan masyarakat. Berkaca dali pulau Bali, maka perlu pemahaman yang lebih mendalam bagi pelaku seni, budayawan hingga masyarakat Kota Palangka Raya untuk mampu menyajikan budayanya sehingga dapat dinikmati wisatawan. Kesiapan mental dalam menerima arus kunjungan wisatawan perlu selalu dijaga, tentu saja tata krama dan adat istidat khas dari Suku Dayak yang luhur harus selalu kita junjung dan kita tampilkan kepada wisatawan yang menikmati daerah keita sebagai tujuan kunjungannya, dalam hal ini Sapta Pesona pariwisata perlu dipahami dan dilaksanakan masyarakat Kota Palangka Raya sebagai stakeholder destinasi wisata budaya di daerahnya.

Mempromosikan Destinasi Wisata Budaya Di Kota Palangka Raya

Mempromosikan destinasi tentu tidak lepas dari kemasan yang menjadi kesan pertama yang dilihat wisatawan. Startegi pengemasan destinasi wisata budaya adalah hal yang menyangkut dengan keprofesionalan pelakunya serta ide kreatif untuk menampilkan suguhan keunikan budaya Dayak yang ada Di Kota Palangka Raya. Bentuk promosi yang dilakukan dapat berupa strategi konvensional (brosur, leaflet, booklet, poster dll) serta strategi pemasaran modern seperti website, sales mission, road show, media trip, melalui pameran/bursa pariwisata dll.

Saat ini kegiatan promosi menjadi sangat mudah dilakukan, website dan media sosial menjadi pilihan yang paling tepat digunakan dalam mempromosikan pariwisata serta kegiatan mencari info destinasi wisata oleh wisatawan. Keunggulan website dan media sosial adalah kegiatan promosi dan  dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun 1×24 jam selama setahun penuh tanpa ada jeda, karena layanan internet tersedia kapanpun dan dimanapun. Wisatawan pun akan menjadi mudah mencari info destinasi wisata karena info destinasi yang kita sajikan tersedia dalam website maupun media sosial.

Hal yang dilakukan Pemerintah Daerah Kota Palangka Raya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata saat ini sudah mulai mencakup strategi konvensional dan modern dan hal ini akan terus dikembangkan dari tahun ketahun karena mempersiapkan suatu destinasi wisata budaya yang handal memerlukan proses dan waktu serta kesepahaman antara pemerintah dan pelaku usaha/seniman/budayawan/masyarakat  dalam bersama membangun Kota Palangka Raya sebagai destinasi wisata budaya. (Endri)

Habakung Dalam Upacara Kematian

Dalam suatu upacara kematian di beberapa daerah yang ada di Kalimantan Tengah dikenal suatu acara yang disebut dengan Habukung. Habukung merupakan suatu upacara ritual yang berasal dari kebiasaan jaman dahulu kala yang dialami nenek moyang orang Dayak di Kalimantan Tengah. Pada Masa sekarang ini jarang kita temui ritual adat yang unik ini, hal ini merupakan salah satu kekayaan budaya Dayak dari Kalimantan Tengah yang perlu terus kita lestarikan.

Upacara Ritual Habukung yaitu berawal dari suatu legenda pada zaman dahulu kala pada sebuah dusun atau pemukiman yang terdiri dari 7 (tujuh) buah rumah, tinggallah sepasang suami dan istri, mereka merupakan salah satu pasangan yang baru saja menikah. Sang suami sangat mencintai istrinya. Pada suatu ketika terjadilah peristiwa yang menimpa keluarga mereka yang baru saja dibina kurang lebih berjalan 1 (satu) tahun. Pada hari itu terjadilah suatu musibah yang tidak disangka-sangka, istrinya yang sedang menggandung sekitar  7 bulan, tiba-tiba meninggal dunia. Karena istrinya meninggal dunia tersebut, sang suami sangat bersedih sekali dan selalu menangis sambil memeluk mayat istrinya, dan selama itu juga sang suami tidak mau makan dan berbicara dengan siapa pun. Orang tua dan pihak keluarga selalu berupaya untuk menasehati agar mayat istrinya segera dimakamkan, tetapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya  dan ia pun tetap berbaring dan menangis sambil memeluk mayat istrinya.

Pihak keluarga mulai gelisah, berupaya berfikir mencari jalan keluar untuk membujuknya agar mau memakamkan istrinya, dan kurang lebih berjalan 15 (lima belas) hari, pada suatu malam ayah sang laki-laki tersebut bermimpi bertemu seseorang dan orang tersebut berkata kami akan menolong bapak untuk menghibur anak bapak yang ditinggalkan istrinya tersebut dengan cara datang berangsur-angsur setiap hari dan tolong beritahukan pula kepada penduduk kampung lainnya jangan takut atas kedatangan kami yang berwujud aneh-aneh. Setelah terbangun pada pagi harinya, maka sang ayah segera bangun untuk memberitahukan mimpi tersebut kepada warga kampung setempat.

Pada malam harinya, terdengarlah suara gemuruh dan derap-derap kaki dari luar kampung dan diselingi suara musik gong dan lainya, kemudian muncullah orang banyak sekali memakai suatu topeng yang terbuat dari kayu Palawi. Topeng inilah yang disebut dengan Bukung. Topeng yang digunakan orang-orang tersebut berbentuk aneh dan unik, Orang-orang tersebut membunyikan alat-alat musik dan disertai dengan berbagai macam tarian sambil membunyikan potongan bambu yang dibelah dan dibuat sedemikian rupa untuk dihentak-hentakan dan dipukul sehingga berbunyi berderak, bambu tersebut dinamakan dengan “Selekap”.  Selain wajah yang aneh dan unik, Bukung-bukung tersebut juga menggunakan bermacam-macam bentuk dan pakaian yang aneh seperti terbuat dari dedaunan, rumput, daun pisang dan lain-lain.

Tarian yang dibawakan Bukung-bukung tersebut  dibuat dengan gaya yang lucu-lucu sehingga membuat orang yang melihat terhibur dan tertawa-tawa. Begitulah Bukung tersebut datang setiap malam, sehingga sang laki-laki yang istrinya meninggal tersebut juga turut terhibur  hanyut dalam keceriaan orang-orang kampung yang terhibur oleh atraksi Bukung-bukung tersebut. Keadaan sang laki-laki itu pun berangsur-angsur membaik, dia mau makan dan berbicara dengan orang lain lagi.

Setiap malam Bukung-bukung itu datang sambil membawa uang, barang- barang lainya yang akan disumbangkan kepada keluarga yang mengalami musibah meninggal dunia tersebut. Hal ini berlangsung selama setiap malam. Selama beberapa malam tersebut setelah adanya Bukung tersebut, maka banyak sekali barang-barang sumbangan yang diberikan menumpuk seperti beras, ayam, babi dan lainnya.

Selanjutnya pada suatu malam pihak keluarga sang pemuda memyampaikan rencana kepada san suami untuk memakamkan istrinya. Hasilnya sang suami setuju untuk memakamkan istrinya sampai pada ketentuan bahwa keluarga harus menyiapkan biaya untuk pelaksanaan penguburan dengan bantuan Bukung tadi (biaya yang sudah ada). Menjelang hari pelaksanaan pemakaman kegiatan Habukung berjalan terus tiap malam tanpa henti. Tepat pada hari pemakaman, Bukung terus diadakan sampai peti jenasah (raung) dibawa ke liang lahat (dikuburkan). Bukung-bukung tersebut turut pula mengangakat dan membawakan peti jenasah istri laki-laki tersebut. Bukung yang terakhir ikut mengangkat dan membawa peti jenasah ke kuburan, bukung yang ikut mengangkat peti jenasah tersebut yaitu Bukung Kinyak atau Bukung Belang.

Berdasarkan dari legenda/mitos itulah maka bagi pemeluk agama Hindu Kaharingan di kecamatan Mentaya Hulu kabupaten Kotawaringin Timur selalu melaksanakan Habukung setiap ada keluarga yang meninggal dunia. (Endrie)